Di Muara Jawa, Velya berlatih silat setiap sabtu sore di balai desa. Ia ingin seni bela diri itu tetap hidup di kalangan anak muda.
Setiap Sabtu sore, balai desa di Muara Jawa berubah menjadi arena latihan. Belasan anak berbaris rapi, dan di barisan paling depan berdiri Velya, 14 tahun, pemimpin latihan tidak resmi bagi teman-teman seusianya.
Velya mulai berlatih silat sejak kelas lima sekolah dasar, mengikuti jejak kakeknya yang dulu sering mengisi acara adat di kampung.
Membujuk teman sebaya
Tantangan terbesar Velya bukan jurus, melainkan mengajak teman-temannya bertahan. Di musim pertama, tujuh dari dua belas anak berhenti karena merasa silat "kuno".
Silat itu bukan soal tua atau muda. Itu soal menghormati orang lain dan tahu batas kekuatan kita.
Cara Velya mengubahnya sederhana: ia mengunggah potongan video latihan ke media sosial dan menuliskan nama setiap teman yang tampil. Perlahan, minat tumbuh kembali. Sekarang jadwal latihan bahkan harus dibagi dua kelompok karena peserta bertambah.
Cita-cita yang tak jauh dari rumah
Velya ingin menjadi pesilat yang mewakili Kalimantan Timur di kejuaraan nasional. Selain itu, ia bercita-cita membuka sanggar kecil di desanya agar anak-anak yang lebih muda punya tempat berlatih tanpa harus pergi jauh ke kota.
Dukung Majalahkita.com
Bantu kami terus menghadirkan cerita dan informasi inspiratif.
Dukung Majalahkita.com
Pindai kode QRIS dengan aplikasi bank atau e-wallet Anda.
Terima kasih atas dukungan Anda untuk jurnalisme lokal.