Rabu, 4 November 2026
Maraknya Iming-Iming Tampil di Bioskop, Pelaku Film Diminta Lebih Kritis
Berita

Maraknya Iming-Iming Tampil di Bioskop, Pelaku Film Diminta Lebih Kritis

7 Oktober 2026 5.5K

BALIKPAPAN — Perkembangan industri film di Balikpapan dan Kalimantan Timur dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Namun, di tengah perkembangan tersebut,…

BALIKPAPAN — Perkembangan industri film di Balikpapan dan Kalimantan Timur dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Namun, di tengah perkembangan tersebut, masyarakat dan para talent dinilai perlu mendapatkan edukasi mengenai berbagai tawaran produksi film, khususnya yang menjadikan kesempatan tampil di bioskop sebagai daya tarik utama.

Ketua Film Balikpapan Community (FBC), Agust Sabhara, yang akrab disapa Bang Bara, mengatakan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara produksi film profesional dengan kegiatan screening atau pemutaran film yang memang diselenggarakan secara mandiri.

Menurutnya, saat ini ada sejumlah komunitas atau pihak tertentu yang membuat film secara mandiri kemudian menyewa studio bioskop untuk satu kali pemutaran. Kondisi tersebut kemudian berpotensi dijadikan sebagai daya tarik untuk mengajak talent maupun masyarakat bergabung dalam sebuah produksi.

"Ini perlu edukasi. Jangan sampai masyarakat tertipu hanya karena iming-iming film akan tayang di bioskop," ujar Bang Bara.

Ia menjelaskan, kesempatan tampil dalam sebuah produksi film seharusnya tidak serta-merta dijadikan alasan bagi talent untuk mengeluarkan biaya agar dapat bermain dalam film. Dalam mekanisme produksi yang profesional, seorang talent yang mendapatkan peran berdasarkan casting pada prinsipnya merupakan bagian dari kebutuhan produksi dan mendapatkan bayaran sesuai kesepakatan apabila produksi tersebut memang menyediakan honor.

"Kalau namanya casting untuk main film, pada prinsipnya talent itu dibayar. Bukan talent yang membayar untuk mendapatkan peran. Apalagi kalau sampai diminta membayar atau patungan agar bisa ikut bermain, masyarakat harus lebih kritis melihat konsep produksinya," katanya.

Menurut Bang Bara, biaya penyewaan studio bioskop yang relatif dapat dijangkau untuk kegiatan pemutaran satu kali menjadi salah satu celah yang perlu dipahami masyarakat. Sebab, film yang diputar di bioskop tidak selalu berarti film tersebut merupakan film komersial yang mendapatkan distribusi bioskop secara reguler.

Ia menambahkan, penyewaan studio bioskop untuk satu kali pemutaran pada dasarnya merupakan hal yang berbeda dengan film yang benar-benar mendapatkan slot penayangan komersial dan didistribusikan secara reguler kepada masyarakat.

"Biasanya ada yang menggunakan bioskop untuk gala premiere atau screening satu kali. Itu sah-sah saja sebagai kegiatan pemutaran. Tetapi masyarakat harus bisa membedakan antara menyewa studio untuk screening dengan film yang benar-benar masuk dalam penayangan komersial bioskop," jelasnya.

Bang Bara yang juga merupakan praktisi film serta pernah berkecimpung sebagai jurnalis dan bagian dari tim produksi di sejumlah televisi nasional tersebut mengingatkan para talent, khususnya anak-anak muda yang baru masuk ke dunia perfilman, agar tidak mudah tergiur dengan label "tampil di bioskop".

Menurutnya, perjalanan menjadi aktor maupun pekerja film membutuhkan proses, mulai dari latihan, casting, membangun portofolio, mengikuti produksi, hingga mendapatkan pengalaman di lapangan.

"Tidak ada yang instan. Semua harus melalui proses. Jangan sampai kesempatan tampil di bioskop justru dijadikan alat untuk membuat orang mengeluarkan uang demi mendapatkan peran," tegasnya.

Ia berharap fenomena tersebut tidak mencoreng perkembangan industri film lokal di Balikpapan yang saat ini justru sedang tumbuh. Menurutnya, semakin banyak komunitas dan sineas lokal yang berkarya seharusnya menjadi peluang positif untuk membangun ekosistem perfilman yang sehat, transparan dan profesional.

"Jangan sampai karena ada praktik-praktik seperti ini kemudian masyarakat menjadi antipati terhadap komunitas film atau produksi lokal. Kita ingin industri film Balikpapan berkembang. Karena itu, edukasi sangat penting agar masyarakat tahu mana proses produksi, mana screening, dan mana penayangan komersial," pungkas Bang Bara.

Simpan

Artikel Terkait

Lihat Semua