Aden memilih jalan sepi foto jalanan: berjalan tanpa rencana, menunggu momen, dan pulang dengan satu foto yang layak.
Setiap akhir pekan, Aden berjalan kaki menyusuri kawasan pasar dan pelabuhan dengan satu kamera. Tidak ada daftar lokasi, tidak ada target unggahan. Ia hanya berjalan dan mengamati.
Baginya, foto jalanan adalah cara paling jujur untuk menggambarkan kota. Tidak ada pengaturan lampu, tidak ada penataan ulang lokasi, hanya momen yang muncul sekali.
Belajar dari kegagalan
Beberapa tahun awal, Aden sering pulang dengan ratusan foto yang tidak dipakai. Kebiasaan itu berubah setelah ia memaksakan aturan sederhana: satu hari, satu foto terbaik.
Membatasi jumlah foto membuat saya lebih sabar. Saya berhenti memotret apa saja, mulai menunggu apa yang benar-benar menarik.
Ia juga belajar soal etika: tidak memotret wajah anak-anak tanpa izin orang tua, dan tidak mengejar objek yang jelas tidak ingin difoto.
Berbagi lewat lokakarya
Aden kini rutin mengisi lokakarya singkat gratis untuk pelajar. Materinya sederhana: cara membaca cahaya, mencari latar bersih, dan menjaga jarak agar tidak mengganggu orang. "Kamera apa pun bisa, asal kita sabar berjalan," ujarnya.
Dukung Majalahkita.com
Bantu kami terus menghadirkan cerita dan informasi inspiratif.
Dukung Majalahkita.com
Pindai kode QRIS dengan aplikasi bank atau e-wallet Anda.
Terima kasih atas dukungan Anda untuk jurnalisme lokal.